Sebelum tamat SMU aku dengan gagah perkasa berkata pada Papa ku bahwa aku ingin menjadi seorang arsitektur. Berhubung Papa ku adalah seorang kontraktor, jadinya 'nyambung. Tapi yang namanya cita-cita gak selamanya sama dengan kenyataan kita. Tak lama setelah aku berkata demikian, Papa ku pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Setelah itu aku pikir semua cita-cita yang aku susun udah harus aku hapus dan ulang kembali. Walau ada rasa sakit hati, putus asa, sedih, tapi aku tetap berusaha tegar.
Seiring waktu, aku juga banyak mendengar cerita dari teman dan saudara tentang cita-cita yang lain dengan kenyataan setelah kita dewasa. Perlahan aku mulai bisa memahami kalau ternyata orang dewasa itu harus cepat dan sigap mengubah jalan hidup dan cita-citanya. Istilah kerennya adalah cita-cita harus up to date…
Salah satu contohnya adalah Paman ku yang paling aku cintai. Dulunya beliau adalah seorang pengusaha yang sukses. Namun karena keadaan atau karena emang udah jalan hidupnya, ditengah perjalanan hidupnya beliau harus mengubah haluan menjadi seorang supir angkot. Namun semua itu beliau kerjakan dengan penuh kehormatan dan keuletan. Aku saja diam-diam sangat mengagumi beliau. Karena dengan pekerjaan sebagai supir beliau sanggup menghidupi keluarga besarnya. Salut…
Balik lagi ke aku yang awalnya punya cita-cita ingin menjadi arsitek, akhirnya mutar haluan menjadi seorang guru silat. Gak lah… cuma guru private les doang. Mana mungkin aku jadi guru silat, membaca saja aku tak bisa, maen bola aja ditolongi sama bibi. (Hahaha…) Tapi hingga detik ini aku masih dan tetap akan selalu bangga dengan pekerjaanku ini.
Pernah sewaktu aku masih seorang umat baru dan sedang berada di Vihara, waktu itu aku berjumpa dengan seorang Pandita. Seperti biasa, percakapan dimulai dari siapa nama kamu dan apa pekerjaan kamu. Setelah memperkenalkan namaku, aku sedikit malu mengucapkan kalau aku adalah seorang guru private les. Namun aku mendapatkan jawaban yang luar biasa. Beliau itu memuji pekerjaan ku. Katanya secara tidak langsung kita telah mendidik seorang anak untuk menjadi lebih baik atau pintar. Dikemudian hari pasti orang tua atau bahkan leluhurnya akan sangat berterimakasih kepada kamu. Tak lupa beliau juga berkata, pekerjaan seorang guru itu sangat besar pahalanya. Aku yang mendapatkan jawaban seperti itu cuma bisa senyum-senyum kuda dan lupa mengucapkan terimakasih. Serasa udah di atas awan, jadi lupa sama buaya daratan. (hehehe…)
Mungkin kamu yang sedang baca baca cerita (blog) ini juga merasa kalau cita-cita yang dulu kamu inginkan telah berubah dan tidak sama dengan yang kamu jalankan sekarang ini. Namun tak apa. Ibarat pantun…
Air dan api berubah wujud
Tikus dan kutu pada mampus
Walau cita-cita tak terwujud
Hidup dan kentut tetap jalan terus
(pantun yang aneh…)
Di dunia ini aku yakin bukan cuma kita-kita aja yang mengalami kejadian dimana cita-cita kita tidak menjadi kenyataan. Tapi jangan bersedih atau merana sehingga menjadi depresi. Barangkali aja ada rencana Tuhan yang lebih baik untuk diri kita dan lingkungan kita. Contoh yang paling up to date aja ya… coba liat si Tukul Arwana. Maksud aku bukan liat moncongnya itu loh! Tapi liat jalan hidupnya. Aku yakin 100 % kalo si Tukul itu dulunya gak punya cita-cita jadi seorang selebritis kayak sekarang. Namun sekarang ini siapa yang tidak kenal Tukul Arwana?
Apapun yang kita jalankan sekarang ini, harus kita jalankan dengan baik. Tak perduli walau tidak sama dengan apa yang kita cita-citakan. Tak perduli walau yang kita kerjakan ini sama sekali hal yang tidak pernah kita bayangkan, atau bahkan pekerjaan yang paling kita benci sekalipun. Ingatlah selalu, life must go on pren… so, don’t turn off your life…
Seiring waktu, aku juga banyak mendengar cerita dari teman dan saudara tentang cita-cita yang lain dengan kenyataan setelah kita dewasa. Perlahan aku mulai bisa memahami kalau ternyata orang dewasa itu harus cepat dan sigap mengubah jalan hidup dan cita-citanya. Istilah kerennya adalah cita-cita harus up to date…
Salah satu contohnya adalah Paman ku yang paling aku cintai. Dulunya beliau adalah seorang pengusaha yang sukses. Namun karena keadaan atau karena emang udah jalan hidupnya, ditengah perjalanan hidupnya beliau harus mengubah haluan menjadi seorang supir angkot. Namun semua itu beliau kerjakan dengan penuh kehormatan dan keuletan. Aku saja diam-diam sangat mengagumi beliau. Karena dengan pekerjaan sebagai supir beliau sanggup menghidupi keluarga besarnya. Salut…
Balik lagi ke aku yang awalnya punya cita-cita ingin menjadi arsitek, akhirnya mutar haluan menjadi seorang guru silat. Gak lah… cuma guru private les doang. Mana mungkin aku jadi guru silat, membaca saja aku tak bisa, maen bola aja ditolongi sama bibi. (Hahaha…) Tapi hingga detik ini aku masih dan tetap akan selalu bangga dengan pekerjaanku ini.
Pernah sewaktu aku masih seorang umat baru dan sedang berada di Vihara, waktu itu aku berjumpa dengan seorang Pandita. Seperti biasa, percakapan dimulai dari siapa nama kamu dan apa pekerjaan kamu. Setelah memperkenalkan namaku, aku sedikit malu mengucapkan kalau aku adalah seorang guru private les. Namun aku mendapatkan jawaban yang luar biasa. Beliau itu memuji pekerjaan ku. Katanya secara tidak langsung kita telah mendidik seorang anak untuk menjadi lebih baik atau pintar. Dikemudian hari pasti orang tua atau bahkan leluhurnya akan sangat berterimakasih kepada kamu. Tak lupa beliau juga berkata, pekerjaan seorang guru itu sangat besar pahalanya. Aku yang mendapatkan jawaban seperti itu cuma bisa senyum-senyum kuda dan lupa mengucapkan terimakasih. Serasa udah di atas awan, jadi lupa sama buaya daratan. (hehehe…)
Mungkin kamu yang sedang baca baca cerita (blog) ini juga merasa kalau cita-cita yang dulu kamu inginkan telah berubah dan tidak sama dengan yang kamu jalankan sekarang ini. Namun tak apa. Ibarat pantun…
Air dan api berubah wujud
Tikus dan kutu pada mampus
Walau cita-cita tak terwujud
Hidup dan kentut tetap jalan terus
(pantun yang aneh…)
Di dunia ini aku yakin bukan cuma kita-kita aja yang mengalami kejadian dimana cita-cita kita tidak menjadi kenyataan. Tapi jangan bersedih atau merana sehingga menjadi depresi. Barangkali aja ada rencana Tuhan yang lebih baik untuk diri kita dan lingkungan kita. Contoh yang paling up to date aja ya… coba liat si Tukul Arwana. Maksud aku bukan liat moncongnya itu loh! Tapi liat jalan hidupnya. Aku yakin 100 % kalo si Tukul itu dulunya gak punya cita-cita jadi seorang selebritis kayak sekarang. Namun sekarang ini siapa yang tidak kenal Tukul Arwana?
Apapun yang kita jalankan sekarang ini, harus kita jalankan dengan baik. Tak perduli walau tidak sama dengan apa yang kita cita-citakan. Tak perduli walau yang kita kerjakan ini sama sekali hal yang tidak pernah kita bayangkan, atau bahkan pekerjaan yang paling kita benci sekalipun. Ingatlah selalu, life must go on pren… so, don’t turn off your life…



0 komentar:
Poskan Komentar