“ iii, bencong!” gitu deh kita ‘ngucapkan kata-kata itu sambil masang muka ji-jai (jijik) kalo nampak mereka-mereka yang 60% hawa, 40% adam. Termasuk aku juga begitu. Tapi yang namanya Tuhan pastilah akan mencari cara agar kita yang punya perasaan ji-jai ini disadarkan. Entah kenapa Tuhan sepertinya sayang pada diriku sehingga aku terpilih untuk mendapatkan pelajaran yang diberi nama : Pengetahuan Sadar Dari Rasa JI-JAI.
Buku dengan judul Pengetahuan Sadar Dari Rasa JI-JAI kini sudah tersedia di toko-toko material bangunan, apotik, toko cet, tempat pangkas, dan edisi yang terbaru bahkan sudah diedarkan oleh mbok-mbok jamu hingga kepelosok-pelosok desa di negeri yang tercinta ini. Buruan loh… stok terbatas. Cuma dicetak seper-sejuta eksamplar!
Buku dengan judul Pengetahuan Sadar Dari Rasa JI-JAI kini sudah tersedia di toko-toko material bangunan, apotik, toko cet, tempat pangkas, dan edisi yang terbaru bahkan sudah diedarkan oleh mbok-mbok jamu hingga kepelosok-pelosok desa di negeri yang tercinta ini. Buruan loh… stok terbatas. Cuma dicetak seper-sejuta eksamplar!
Kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Aku dan calon istriku sedang mencari buku di sebuah toko buku. Awalnya sih kita mau mencari buku silat dengan jurus-jurus mematikan karena belakangan di rumahku banyak sekali nyamuknya, trus mau cari buku resep memasak akar pohon kelapa (sebulan disana pun pasti gak bakalan ketemu!). Ntah bagaimana, (pokoknya gak ada angin, gak ada kentut, gak ada badai, bahkan gak ada tsunami) mata aku seperti diperintah aja untuk pelototi sebuah spanduk kecil yang terpasang di dekat sebuah tumpukan buku. Tulisan di spanduk itu kira-kira seperti ini (aku rada-rada lupa, maklum aja kadang bisa kumat penyakit idiotnya) :
Peluncuran buku JANGAN LIHAT KELAMINKU, yang akan dihadiri langsung oleh pengarang buku tersebut!
Ayooo rame-rame beli buku ini karena gratis topeng monyet!!!
Kata-kata yang terakhir kayaknya aku salah inget dech… (GOBLOK!)
Terus, dengan sadis aku tarik aja calon istriku untuk mengobrak-abrik semua tumpukan buku itu untuk mencari topeng monyetnya. Belum sempat aku obrak-abrik, sepasang bola mata si-satpam yang besarnya kayak biji jengkol itu melototi aku. Aku cuma senyum kuda aja sama si mata jengkol itu. Terus dengan anggun, berlagak bak bangsawan aku buka sehelai demi sehelai daun pisang itu. (GRUBAK!) Gak lah… maksudnya aku baca deh buku itu dengan penuh konsentrasi. Lalu aku duduk dengan posisi semedi, mata tertutup, lubang ‘idung ku kembang kempis narik napes. Aku benar-benar dalam tahap menghayati buku yang aku pegang.
Karena buku itu masih dibungkus sama daon pisang (plastik maksudku), maka aku cuma bisa baca sampul belakangnya. Disitu tertulis kalo nama si pengarang adalah Merlyn bla-bla-bla. Aku udah lupa nama lengkapnya. Pokoknya disitu tertulis kalo sebelumnya neh pengarang buku adalah cowok tulen, ganteng, anak keturunan ningrat (macam eke gitu loh…), darah biru (sama lah cem aku…), trus tamatan perguruan tinggi ternama di pulau Jawa. Lanjutnya lagi menurut buku ini, kalo nih cowok akhirnya berubah menjadi ULTRAMEN (DASYAT!). Gak lah… tapi akhirnya nih cowok merubah penampilannya menjadi wanita. Tapi tanpa merubah kelamin dan bentuk fisiknya. Cowok ganteng itu hanya merubah cara berpakaian alias penampilan luarnya diubah jadi cewek. Pake lipstik kalo mau pergi kuliah, pake odol kalo lagi mandi, trus pake rinso kalo lagi nyuci (ya iya lah…), dan yang lebih dasyat lagi adalah dia PeDe aja dengan penampilan barunya itu dan tetap pergi kuliah.
Masih lanjut dari buku itu… Setelah melewati masa-masa sulit, akhirnya si Merlyn ini mendapatkan pengakuan dari banyak pihak. Bahkan lulus sarjana dengan nilai terbaik. Yang lebih dasyatnya adalah dirinya diangkat oleh sebuah Lembaga Dunia menjadi Duta AIDS untuk Indonesia. Trus si Merlyn ini juga ikut dalam pertarungan memperebutkan kursi pemimpin di daerahnya. Walau akhirnya kalah tapi dirinya menjadi semakin terkenal dan disegani oleh banyak pihak. Setelah sempat terkagum-kagum, tiba-tiba aku disadarkan oleh sebuah tamparan dari calon istriku. Dia memang suka menyadarkan aku dari lamunan. Tamparan kali ini masih lumayan, karena biasanya dia pake jurus tendangan tanpa bayangan. Setelah aku sadar dari lamunan, aku baru sadar kalo orang yang aku baca dalam buku tadi kini sudah hadir dan duduk tepat di hadapan ku.
Aku melihatnya dari ujung rambut hingga ujung jempol kakinya yang dicat merah itu. Aku menilai kalo dia itu tidaklah menjijikkan seperti yang selama ini aku bayangkan (mungkin seperti yang kamu bayangkan juga). Karena dirinya juga seorang manusia. Sama seperti aku. Ya mungkin dia tidak seganteng aku. Tapi, aku juga tidak secantik dia. (Weleh…weleh… penilaian yang aneh!)
Setelah berdiri disana lebih dari 30 menit, akhirnya calon istriku membeli sebuah bukunya dan meminta tandatangan darinya. Calon istriku saat meminta tandatangan darinya terlihat berdiri begitu akrab dengan dirinya. Aku melihatnya dengan penuh keikhlasan, tanpa ada rasa ji-jai sedikitpun. Seketika itu juga aku tersadar kalau selama ini aku hanya punya rasa ji-jai tanpa alasan yang jelas. Aku atau kita umumnya hanya menilai sebuah masalah dari sudut pandang kita saja yang cenderung sempit dan negatif. Kita tak pernah tau apa penyebab dari sebuah masalah.
Setelah si Merlyn itu berlalu, aku berkata pada diriku sendiri. Aku berkata dengan pelan, agar calon istriku tidak mendengarnya. Karena kalau dia dengar mungkin sebuah jurus TAPAK GELEDEK bisa mendarat dipipiku yang kering dan kerontang ini. Aku bilang pada diriku yang hina dina ini kalau ternyata rasa ji-jai itu lebih tepat diganti dengan rasa iba atau kasihan. Bukan berarti kita merasa dirinya itu perlu dikasihani. Tapi dengan ada rasa iba atau kasihan ini, kita bisa turut merasakan perasaannya. Mungkin setelah punya rasa iba dan kasihan ini, kita bisa berdoa untuk orang-orang seperti si Merlyn agar setidaknya ada sedikit harapan untuk mereka agar satu hari nanti mereka ini bisa berubah menjadi manusia yang normal seutuhnya. Dibandingkan kalau dulunya kita hanya punya rasa ji-jai, maka hati kita cenderung untuk mengutuk keberadaan mereka. Sehingga membuat kita lupa, kalau mereka-mereka itu adalah manusia yang sama seperti kita yang juga merupakan ciptaan TUHAN.
Maka sejak saat itu aku yang hina dina dan yang tetap perkasa walau sedikit ada rasa putus asa, selalu berusaha untuk berpikir yang positif. Ato bahasa kerennya anak-anak sekarang adalah : positip tingking gitu loh…
Demikianlah pengalaman ku yang sedikit aneh dan rada-rada misterius itu. Aku sendiri menganggap pengalaman ini ibarat sebuah pribahasa :
Bagai sehelai bulu idung diantara lebatnya bulu idung
(kek nya ada yang salah deh…) atau…
Bagai diriku yang ganteng diantara berjuta-juta Keanunya-anu-Reevers
(asal deh…) atoo…
Bagai setitik terang ditengah kegelapan
(kek nya ini lebih ok!)
Tapi emang benar loh… sejak saat itu aku merasa kalo diriku ini sedikit lebih arif dan bijaksana, walau penyakit idiot dan gobloknya tidak hilang sama sekali. hehehe... ^_^
Kata-kata yang terakhir kayaknya aku salah inget dech… (GOBLOK!)
Terus, dengan sadis aku tarik aja calon istriku untuk mengobrak-abrik semua tumpukan buku itu untuk mencari topeng monyetnya. Belum sempat aku obrak-abrik, sepasang bola mata si-satpam yang besarnya kayak biji jengkol itu melototi aku. Aku cuma senyum kuda aja sama si mata jengkol itu. Terus dengan anggun, berlagak bak bangsawan aku buka sehelai demi sehelai daun pisang itu. (GRUBAK!) Gak lah… maksudnya aku baca deh buku itu dengan penuh konsentrasi. Lalu aku duduk dengan posisi semedi, mata tertutup, lubang ‘idung ku kembang kempis narik napes. Aku benar-benar dalam tahap menghayati buku yang aku pegang.
Karena buku itu masih dibungkus sama daon pisang (plastik maksudku), maka aku cuma bisa baca sampul belakangnya. Disitu tertulis kalo nama si pengarang adalah Merlyn bla-bla-bla. Aku udah lupa nama lengkapnya. Pokoknya disitu tertulis kalo sebelumnya neh pengarang buku adalah cowok tulen, ganteng, anak keturunan ningrat (macam eke gitu loh…), darah biru (sama lah cem aku…), trus tamatan perguruan tinggi ternama di pulau Jawa. Lanjutnya lagi menurut buku ini, kalo nih cowok akhirnya berubah menjadi ULTRAMEN (DASYAT!). Gak lah… tapi akhirnya nih cowok merubah penampilannya menjadi wanita. Tapi tanpa merubah kelamin dan bentuk fisiknya. Cowok ganteng itu hanya merubah cara berpakaian alias penampilan luarnya diubah jadi cewek. Pake lipstik kalo mau pergi kuliah, pake odol kalo lagi mandi, trus pake rinso kalo lagi nyuci (ya iya lah…), dan yang lebih dasyat lagi adalah dia PeDe aja dengan penampilan barunya itu dan tetap pergi kuliah.
Masih lanjut dari buku itu… Setelah melewati masa-masa sulit, akhirnya si Merlyn ini mendapatkan pengakuan dari banyak pihak. Bahkan lulus sarjana dengan nilai terbaik. Yang lebih dasyatnya adalah dirinya diangkat oleh sebuah Lembaga Dunia menjadi Duta AIDS untuk Indonesia. Trus si Merlyn ini juga ikut dalam pertarungan memperebutkan kursi pemimpin di daerahnya. Walau akhirnya kalah tapi dirinya menjadi semakin terkenal dan disegani oleh banyak pihak. Setelah sempat terkagum-kagum, tiba-tiba aku disadarkan oleh sebuah tamparan dari calon istriku. Dia memang suka menyadarkan aku dari lamunan. Tamparan kali ini masih lumayan, karena biasanya dia pake jurus tendangan tanpa bayangan. Setelah aku sadar dari lamunan, aku baru sadar kalo orang yang aku baca dalam buku tadi kini sudah hadir dan duduk tepat di hadapan ku.
Aku melihatnya dari ujung rambut hingga ujung jempol kakinya yang dicat merah itu. Aku menilai kalo dia itu tidaklah menjijikkan seperti yang selama ini aku bayangkan (mungkin seperti yang kamu bayangkan juga). Karena dirinya juga seorang manusia. Sama seperti aku. Ya mungkin dia tidak seganteng aku. Tapi, aku juga tidak secantik dia. (Weleh…weleh… penilaian yang aneh!)
Setelah berdiri disana lebih dari 30 menit, akhirnya calon istriku membeli sebuah bukunya dan meminta tandatangan darinya. Calon istriku saat meminta tandatangan darinya terlihat berdiri begitu akrab dengan dirinya. Aku melihatnya dengan penuh keikhlasan, tanpa ada rasa ji-jai sedikitpun. Seketika itu juga aku tersadar kalau selama ini aku hanya punya rasa ji-jai tanpa alasan yang jelas. Aku atau kita umumnya hanya menilai sebuah masalah dari sudut pandang kita saja yang cenderung sempit dan negatif. Kita tak pernah tau apa penyebab dari sebuah masalah.
Setelah si Merlyn itu berlalu, aku berkata pada diriku sendiri. Aku berkata dengan pelan, agar calon istriku tidak mendengarnya. Karena kalau dia dengar mungkin sebuah jurus TAPAK GELEDEK bisa mendarat dipipiku yang kering dan kerontang ini. Aku bilang pada diriku yang hina dina ini kalau ternyata rasa ji-jai itu lebih tepat diganti dengan rasa iba atau kasihan. Bukan berarti kita merasa dirinya itu perlu dikasihani. Tapi dengan ada rasa iba atau kasihan ini, kita bisa turut merasakan perasaannya. Mungkin setelah punya rasa iba dan kasihan ini, kita bisa berdoa untuk orang-orang seperti si Merlyn agar setidaknya ada sedikit harapan untuk mereka agar satu hari nanti mereka ini bisa berubah menjadi manusia yang normal seutuhnya. Dibandingkan kalau dulunya kita hanya punya rasa ji-jai, maka hati kita cenderung untuk mengutuk keberadaan mereka. Sehingga membuat kita lupa, kalau mereka-mereka itu adalah manusia yang sama seperti kita yang juga merupakan ciptaan TUHAN.
Maka sejak saat itu aku yang hina dina dan yang tetap perkasa walau sedikit ada rasa putus asa, selalu berusaha untuk berpikir yang positif. Ato bahasa kerennya anak-anak sekarang adalah : positip tingking gitu loh…
Demikianlah pengalaman ku yang sedikit aneh dan rada-rada misterius itu. Aku sendiri menganggap pengalaman ini ibarat sebuah pribahasa :
Bagai sehelai bulu idung diantara lebatnya bulu idung
(kek nya ada yang salah deh…) atau…
Bagai diriku yang ganteng diantara berjuta-juta Keanunya-anu-Reevers
(asal deh…) atoo…
Bagai setitik terang ditengah kegelapan
(kek nya ini lebih ok!)
Tapi emang benar loh… sejak saat itu aku merasa kalo diriku ini sedikit lebih arif dan bijaksana, walau penyakit idiot dan gobloknya tidak hilang sama sekali. hehehe... ^_^
[ Tulisan ini sudah pernah aku tempel di Mading Muda-i HE TEK ]



0 komentar:
Poskan Komentar