
Tanggal 18 Desember 2009 lalu aku memutuskan untuk kabur dari semua kepenatan akibat rutinitas dan aktivitas kerjaan. Aku membawa 22 pasukan. Mereka adalah guru-guru STUDY A+, Muda-i HE TEK, dan teman dari Muda-i. Tujuanku kali ini adalah membawa mereka ke puncak Gunung Sibayak. Agak aneh memang. Karena orang pada biasanya selalu mencoba Gunung Sibayak dahulu baru dilanjutkan ke Gunung Sinabung. Tapi aku lebih suka kebalikannya. Sama hal seperti kita mengerjakan sesuatu, pastilah yang rumit dahulu dikerjakan baru yang mudah. Ya, kira-kira begitulah pandanganku dalam hal ini.
Berhubung yang ikut dalam rombongan kali ini ada beberapa orang yang baru pertama kalinya merasakan tracking, maka aku memberikan saran kepada 2 orang pemandu kami untuk memilih jalur wisata saja. Karena aku takut mereka yang masih pemula ini menjadi trauma. Namun aku sadar, bagi mereka yang sudah sering melakukan tracking pastinya akan ngomel sepanjang jalan di telingaku. Setiap keputusan pastilah ada konsekuensinya, pikirku.
Pagi jam 07.00 WIB komplek tempat aku tinggal sudah gaduh dan hiruk pikuk. Bukan karena ada pasar kaget, tapi karena 22 orang peserta yang akan ikut dalam ekspedisi kali ini udah pada datang. Gak lama bus yang akan kami tumpangi juga datang dan parkir di depan pagar masuk. Setelah sibuk beres sana-sini akhirnya pukul 08.00 WIB bus baru mulai jalan meninggalkan kota Medan. Gak sampai 2 jam kami sudah tiba di depan jalan masuk menuju lokasi Pemandian Air Panas Lau Debuk-Debuk. Jumpa dengan 2 orang pemandu kami, lalu membayar retribusi seharga 60ribu rupiah sajaaa… Mahal! harga segini juga didapat dari hasil berbohong ke petugas kalo seisi bus adalah anak sekolah. Seandainya mereka tau kalau kami-kami ini sudah bapak-bapak dan ibu-ibu, mungkin kami semua bisa diarak keliling kampung. (hahaha… ^_^)
Perjalanan kami lanjutkan dengan perlahan, karena sudah ada 1 orang yang mengeluarkan semua isi perutnya (alias muntah). Kemudian kami tiba di pintu masuk Pertamina, 2 pemandu dan aku minta izin untuk lewat. Setelah basa-basi sejenak, kami diperbolehkan lewat. Kali ini aku ngaku ke petugas pengaja pintu itu orang-orang dalam bus itu adalah satwa langka yang mau aku lepaskan di hutan Sibayak (hahaha…^_^). Ada dua gerbang dengan palang pembatas yang kami lewati. Setelah itu bus yang kami tumpangi mulai terbatuk-batuk di jalan yang terus menanjak. Sampai akhirnya disebuah jalan lurus pak supir (Pak Beton namanya) memutuskan untuk berhenti. Aku turun dan memberitahukan kepada pemandu kalau bus kami tak mungkin bisa maju lagi. Dengan berat hati aku meneriak semua peserta untuk turun dari bus (^_^).
Peregangan otot kaki sejenak, ada yang sibuk cari semak-semak untuk menyalurkan nafsu bejatnya (pipis maksudnya, hahaha…). Kemudian berdoa bersama dan sebuah pesan untuk tidak sembarangan membuang sampah menjadi pembuka sebelum dilanjutkan dengan tracking. Jalur yang kami lalui ini (jujur saja) sangatlah mudah. Karena kita tinggal mengikuti jalan aspal yang tergolong mulus itu. Cuman sekali bertemu dengan persimpangan tiga. Disitu kita belok ke kanan. Setelah kita tinggal mengikuti jalan aspal saja. Berjalan dengan santai sekitar 30 menit, kita berjumpa dengan sebuah tanah lapang yang terbuka disebelah kanan dan tebing disebelah kiri. Perjalan kami dilanjutkan dengan melewati jalan setapak diatas tebing itu. Tak sampai 10 menit berjalan dikelilingi hutan dan semak tinggi, kami sudah keluar dan dihidangi pemandangan alam yang oleh mata sangat leluasa memandang jauh ke depan. Takada lagi hutan yang menutupi pandangan mata. Jalur yang kami lewati juga sudah di semen dan berbentuk tangga hingga hampir menuju puncak. Ya cuma ini saja yang bisa diceritakan dari jalur yang kami lewati, sederhana dan simpel. Sungguh sangat berbeda dengan jalur yang kami lewati saat menuju puncak Sinabung. Mungkin dilain kesempatan aku akan mencoba rute yang lain.
Menjelang puncak, kami istirahat sejenak di sebuah aliran air sungai kecil dari punggung gunung Sibayak. Hati ini tak hentinya berdecak kagum melihat semua karya-NYA. Satu hal yang paling menakjubkan adalah air sungai di depan kami ini. Air ini begitu dekat dengan kawah belerang, namun warnanya jernih dan tawar (ada peserta yang mencoba mencicipi air itu). Sedangkan jauh di bawah sana ada pemandian air panas yang airnya keruh dan berbau belerang. Aneh… Ajaib…
Tiba di puncak kami disambut oleh hujan gerimis. Sekitar 10 menit kami semua berkumpul membentuk tenda-tenda pengungsian dari beberapa jas hujan. Hujan reda, langit menjadi bersih. Sebuah kawah dengan beberapa semburan uap panas belerang dan sebuah tebing batu yang tinggi tersuguh indah didepan kami. Tanpa aba-aba, semua berlari menuju kesana. Waktunya narsis, dan najis…. “CLIK!”
Jam 14.30 WIB kami sudah turun dari puncak Gunung Sibayak menuju bus. Istirahat sebentar dengan bercanda dan menyantap sisa bekal yang ada, diputuskan untuk melanjutkan perjalanan kami ke Pasar Tradisional Brastagi. Tracking dilanjutkan di pasar! (hahaha… ^_^)
Ada 2 cerita yang membuat telingaku sakit sepanjang perjalanan kali ini. Yang pertama datang dari mereka yang sudah pernah ke Sinabung. Mereka terus mengomel kenapa aku memilih jalur seperti ini, sama sekali tak ada tantangan. Lain halnya dengan mereka yang baru pertama kali tracking, mereka merasa kalau perjalanan ini akan jadi perjalanan yang terakhir dan terus menyumpahi orang yang telah memilih jalur ini (gak seseram itu lah… ^_^ hahaha). Cerita kedua yang membuat telingaku sakit datang dari beberapa orang peserta yang merasa disepelekan atau diremehkan oleh rombongan orang-orang lain yang sedang turun dari Sibayak dan kebetulan berpapasan dengan rombongan kami. Orang lain itu menertawakan kami karena kami memilih jalur aspal untuk menuju puncak Sibayak. Aku yang (selalu) mendapat tugas menjaga barisan belakang sangat disayangkan tidak mendengar kata-kata dari orang-orang “poltak” itu.
Kalau aku yang bertemu dengan “poltak-poltak” itu akan akan memberitahukan kepada mereka, “Tadi pagi kami semua baru sarapan dan sangat kenyang sekali. Kami kesini ini hanya sekedar untuk menurunkan sarapan kami saja kok…” (hahaha ^_^)
Sebenarnya kalau orang dengan jiwa pecinta alam tidaklah akan meremehkan orang lain saat berada di alam. Karena saat berada di alam, kondisi yang akan terjadi tidak bisa ditebak. Mungkin penampilan mereka memang seperti pecinta alam beneran lengkap dengan tas gedenya, sepatu bot, dan aksesoris lainnya. Namun jiwa dan mereka tidak mencerminkan diri seorang pecinta alam.
But, it’s oke lah… ibarat pepatah : “makin dihujat, makin bermartabat…”
Buat teman-teman yang belum pernah ke Sibayak atau yang baru mau mencoba untuk mendaki gunung, aku sangat menyarankan cobalah jalur yang kami lalui ini. Selain mudah dilewati dan tergolong jalur pendek, jalur ini juga bersih dan aman. Sampai disini cerita ku kali ini, jumpa lagi di petualangan yang berikutnya. MERDEKA…!!! ^_^



0 komentar:
Poskan Komentar