Rabu, 07 April 2010

24 jam yang tidak akan terlupakan

Banyak kejadian dalam hidup ini yang tidak bisa kita lupakan begitu saja. Kejadian dalam keseharian tersebut pastilah memberi pengaruh yang cukup besar bagi hidup kita. Bisa jadi kejadian itu akan membuat kita ingat untuk selamanya dan memberi bekas rasa takut ato trauma.

Sama halnya seperti kejadian dalam 24 jam yang baru saja aku alami. Kejadian ini diawali di pagi hari (semalam) dengan normal saja, yakni : bangun, main bentar sama Ayoka, lalu mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu buat mandiin Ayoka. Saat itu Ayoka lagi duduk di kursi bayinya dan sibuk nonton VCD lagu kesukaannya. Tapi ntah kenapa pagi hari ini Ayoka lebih rewel dari biasanya, dan terus menerus memegang perutnya sambil bilang ke Hie seakan-akan dia mau pipis. Namun setiap kali Hie ajak ke toilet, dia menolak, dan Hie juga jelasin ke dia kalo saat itu ada pake pampers.

Berselang beberapa menit, Ayoka rewel lagi dan mendadak muntah. Hie dan Vie saat itu panik. Karena tanpa sebab tiba-tiba saja dari mulutnya Ayoka keluar muntahan yang berbentuk seperti putih telur yang hancur (kecil-kecil). Akhirnya menurut Emak itu adalah bentuk susu yang kalo uda masuk ke dalam perut bayi dan dimuntahkan maka bentuknya seperti itu.

Penanganan yang paling utama hanya dikasi minyak telon di perut. Agak siangnya Ayoka tetap mandi seperti biasa. Makan siang, makan yogurt kesukaannya, semua lancar seperti biasa. Mendadak saat sore sekitar jam 16 lewat Ayoka muntah lagi saat diberi makan oleh Emak. Perutnya dikasi minyak telon lagi, sebelumnya kita gantiin baju. Hie lalu temenin Ayoka rebahan di tempat tidur. Hie juga tempelin plester penurun panas anak di jidatnya, karena saat Hie ukur suhunya 37,7 derajat. Gak lama Vie pulang kerja, dan kita mutusin untuk bawa Ayoka ke Dokter. Setelah antri selama hampir 2 jam, akhirnya kita masuk ke ruang praktek Dokter.

Setelah melewati perjuangan menangkap tangan dan kaki Ayoka saat sedang diperiksa oleh Dokter, akhirnya Dokter berkata perutnya Ayoka banyak angin dan ini lagi musim mencret. Resep dibuka, dan kita tebus di apotek. Tiba di rumah, Vie cebokin Ayoka di kamar mandi. Setelah selesai, dengan bungkus handuk seperti biasanya Ayoka jalan sendiri menuju ke kamar. Saat itu Hie lagi minum jus, dan mata gak melihat ke arah Ayoka. Sedangkan Vie sedang berjalan dibelakang Ayoka. Ntah gimana kakinya Ayoka tersenggol kursi bayinya dan GRUBAK! Muka Ayoka menghantam lantai. Vie buru-buru menggendong dan memeluk erat Ayoka. Awalnya kita pikir cuma jatuh biasa.

Namun ntah kenapa perasaan gue gak enak banget! Sekilas tampak ada bercak merah di bajunya Vie. Buru-buru gue minta Ayoka dari gendongan Vie. Karena Hie juga takut Vie terlalu capek menggendong Ayoka yang pada saat itu sedang menangis dan sedikit meronta-ronta. Saat Hie liat mulutnya Ayoka, tampak darah segar mengalir deras. BUSYET! langsung kaki gue lemes seketika, seakan tak bertulang! Sumpah, wa udah pernah liat luka yang lebih mengerikan dari ini, dengan darah yang lebih banyak mengalir deras, tapi gak ada rasa takut. Tiba saatnya saat melihat darah dari anak sendiri, AKU MATI KUTU! Hilang sudah semua keberanian ku saat menjelajahi hutan , camping di tengah hutan, menuruni tebing puluhan meter, mendaki gunung....

Dalam hati aku membatin sambil melihat darah segar yang masih melekat di baju ku, "ini akan ku ingat seumur hidupku..."

Berakhir? Belum! Karena saat subuh dilengkapi lagi dengan kejadian gempa yang melanda NAD dan terasa hingga kota Medan. Aku sempoyongan berjalan di depan dengan lampu emergency yang kian redup, Vie dan Ayoka dalam gendongannya, lalu Emak. Aku bahkan lupa kalau aku seharusnya yang mengendong Ayoka. Tiba dilantai 1 dan keluar dari rumah, kami berempat menjadi orang terakhir yang keluar dari komplek ini. "Oh, Tuhan. Terimakasih karena kami masih Kau selamatkan..." batinku.

0 komentar:

Poskan Komentar