Seminar Darma Angkatan Ke-29
[ Hotel Sibayak, 13-14 November 2010 ]
Buddha Ta Sien pagi hari dengan begitu welas asih telah hadir di dalam kelas untuk memberikan wejangan darma kepada seluruh peserta kelas. Berikut ini adalah wejangan yang berhasil saya catat. Bila ada yang salah dalam tulisan ini saya mohon maaf kepada Para Dewa Buddha, dan berharap wejangan ini bermanfaat bagi Saudara Se-Darma dalam kehidupan sehari-hari.
Hidup manusia seperti sandiwara, masing-masing punya peranan masing-masing.
Sebagai manusia kadang sulit memerankan perannya. Adakalanya keatas salah, kebawah juga salah. Adakalanya orang diatas serba salah kepada orang yang dibawah, begitu juga sebaliknya. Mau maju atau mundur juga serba salah. Jadi seorang manusia sangat sulit untuk memerankannya. Bila sulit menjadi manusia apakah kita masih mau menjadi manusia?
Dahulu ada seorang bhiksu tua dan dibelakangnya ada bhiksu kecil. Pada saat itu di luar ada 2 orang bhiksu sedang berdebat. Setelah beberapa saat berlalu, bhiksu A masuk ke dalam dan berkata, “Guru,menurut saya masalah ini harusnya begini tapi bhiksu B malah bilang saya salah. Menurut Anda saya yang benar atau dia yang benar?” Bhiksu tua berkata, “Kamu benar”. Bhiksu A senang dan berjalan ke luar. Tak lama Bhiksu B masuk ke dalam dengan emosi, berkata “Guru, masalah sayalah yang benar, saya punya bukti, yang dikatakan oleh Bhiksu A adalah salah. Menurut Anda siapa benar?”
Bhiksu tua berkata,”Andalah yang benar.” Bhiksu B dengan senang keluar. Pada saat itu Bhiksu kecil yang berdiri di belakang kebingungan, dan bertanya “Guru,kalo A yang benar, ya benar, kenapa dua-duanya benar?” Bhiksu tua memandang Bhiksu kecil dan berkata, “Anda juga benar…”
Kita mungkin merasa heran kenapa ketiga-tiganya benar? Kita sering mendengar dunia adalah lautan penderitaan. Tapi manusia justru tak tau kalo lautan penderitaan itu adalah hatinya sendiri. Hati ada : jahat-baik, panjang-pendek, bergerak-diam, lebar-sempit, welas asih-kesedihan, ketulusan-keraguan, sama seperti air laut yang begitu ganasnya. Adakalanya juga sama seperti air danau yang begitu tenangnya. Pada saat kekuatiran muncul seperti ombak yang sambung-menyambung menyiksa diri kita.
Coba tanyakan kepada diri sendiri, bukankah penderitaan itu berasal dari hati kita sendiri? Dengan orang kita sering berdebat mana benar-salah, berebut kekuasaan. Apa yang kita dapatkan / menangkan? Bila kita mendapatkan segala yang kita inginkan tetapi justru kita kalah kepada hati nurani kita. Anda telah merusak kualitas diri anda sendiri. Anda kehilangan etika kehidupan kita. Bila begitu bahagiakah kita? Apakah segala sesuatu yang ada disekeliling kita atau suasana hati yang membuat kita tidak bahagia? (suasana hati kita)
Kalau kita menyelesaikan masalah dengan bertengkar maka masalah itu tidak akan selesai. Seseorang saat emosi tidak lagi memikirkan apa yang dikatakan. Hari ini kita adalah seorang Pembina, walau kehilangan logika, kita tetap harus mengeluarkan hati nurani / kebajikan dari dalam diri kita. Lama kelamaan kebiasaan ini bisa menjadi kebiasaan. Pada saat masalah itu timbul kita akan otomatis bisa menghadapi masalah dengan sabar. Kalau mengalah satu langkah maka langit luas ada di depan kita. Tidaklah sulit menjadi seorang Budha.
Dewa Budha tak ada lagi yang harus dikuatirkan, karena mereka telah berbuat demi umat manusia. Kita harus mencontohi kebajikan dari air. Kebajikan tertinggi itu seperti air. Air demi umat manusia dan tidak ingin berebut apapun. Meskipun tempat tinggal air tidak disukai orang tapi air tetap tinggal disana, sama seperti TAO. Air mengalir dari atas ke bawah, apa yang kita masukkan ke dalamnya dia tak pernah mengeluh, kotoran apapun kita buang kepada dirinya tak pernah mengeluh, air yang bersih kita gunakan hingga kotor diapun tak pernah mengatakan tidak, kita gunakan untuk mandi / mengepel dia tak mengeluh. Air ini seperti TAO.
Kita diharapkan tinggal di lingkungan yang baik, sehingga apa yang kita pelajari / anak-cucu kita pelajari semuanya adalah baik. Tempat yang baik bisa membuat hati kita tenang. Berteman dengan orang yang memiliki hati welas asih, maka kita otomatis kita bisa welas asih kepada orang lain. Hati yang baik bukan melalui ucapan saja, tapi melalui gerakan. Apa yang kita katakan ada kepercayaan maka orang akan mengikutinya dan dalam membuat sesuatu hal akan mudah sukses. Kalau semua hal bisa dikerjakan dengan mudah, maka akan banyak hal yang bisa kita lakukan. Contohnya adalah pekerjaan di dalam vihara yang bisa kita lakukan.
Dalam melakukan pekerjaan kita bukan mengejar juara pertama, tapi kita lakukan dengan perasaan yang merasa kalau pekerjaan ini adalah hal yang seharusnya kita lakukan. Hati kalau tidak mengeluh (bahagia) maka otomatis kita melakukan segala sesuatu dengan bahagia seperti Budha Maitreya.
Mencontohi sifat Buddha adalah kita tidak memakan mahluk hidup dan memutuskan untuk berjalan di atas jalan pembinaan ini. Setiap saat mengkoreksi diri dan menyadarkan diri sendiri. Bukalah hati anda untuk mendengarkan siraman rohani. Dengan dada yang begitu lapang, maka kita sanggup menampung apapun yang baik ke dalamnya. Kita harus mengerti demi apa kita hidup di dunia ini.
Apa yang kita lakukan harus berasal dari keputusan kita sendiri, jangan dengar apa yang dikatakan orang lain. Jangan seperti di tiup angin ke kanan anda ke kanan, ke kiri anda juga ke kiri, maka pada akhirnya hasilnya adalah nol. Yang sesuai dengan kebenaran jangan lakukan, dan mundur. Tanyakan dimana kelebihan dan kekurangan kita. Lebarkan hati anda, maka kita akan sadar ada begitu banyak hal yang bisa kita lakukan. Apa yang akan kita lakukan adalah jasa dan pahala. Mendengar darma adalah untuk melatih kita untuk melakukan jasa pahala. Orang diluar
Manusia tidak tau kapan jasmani dan rohani terpisah, jadi selagi ada kesempatan yang baik ini peganglah dengan baik kesempatan ini. Jangan tunggu sampai masa sudah berlalu barulah mau meraih kesempatan itu maka sudah terlambat.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Terimakasih...



0 komentar:
Poskan Komentar